Pantai Nglangkap, menikmati pantai alami dan sepi di Gunungkidul

Pantai Nglangkap, menikmati pantai alami dan sepi di Gunungkidul

Menjelajahi bumi Gunungkidul seakan tak ada habisnya, aneka destinasi menarik selalu ada bagai kejutan di kotak hadiah. Meski Dolanmaning sudah menyambangi beberapa pantai lumayan tersembunyi beberapa waktu lalu seperti pantai Greweng, Pulau Kalong, pantai Kayu Arum, pantai Peyuyon, dan pantai Widodaren, ternyata masih ada sebuah kejutan luar biasa dari kabupaten ini. Berawal dari mencari spot pantai baru di peta Google, Dolanmaning menemukan sebuah pantai di sisi barat yang namanya cukup asing di telinga. Adalah pantai Langkap yang telah menarik perhatian bagai memanggil-manggil untuk minta dikunjungi. Akhirnya pada 22 Oktober 2017, Dolanmaning dan seperti biasa bersama seorang sobat dolan mencari sebuah pantai yang bernama pantai Langkap atau dalam Bahasa jawa dilafalkan “Nglangkap”.

Pantai Nglangkap terletak di gugusan pantai kawasan barat, tepatnya di desa Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul. Sangat menarik jika kita menyebut Saptosari karena kecamatan ini ternyata menyimpan kekayaan pantai yang masih cenderung alami. Memang ada yang sudah kondang seperti pantai Ngrenehan, Ngobaran dan Nguyahan, serta yang terbaru adalah pantai Ngedan. Namun demikian, ‘hidden beaches’ masih tersimpan rapi dan jauh dari jangkauan para wisatawan, terutama wisatawan yang suka keramaian.

Sore di Nglangkap

Masih satu desa dengan pantai Ngedan, ada pantai Butuh, Mbirit dan Ngruen yang ketiganya juga masih kurang terjamah. Dari sekian pantai di Saptosari yang kurang terjamah, Nglangkap bisa dibilang sangat tidak terjamah alias masih sangat alami.  Akses dan lokasi menjadi alasan kenapa Nglangkap masih sangat alami.

Jalan menuju lokasi

Siang itu kami berdua sudah sampai di kawasan desa Krambilsawit ketika kami merasa harus bertanya kepada penduduk setempat untuk memastikan lokasi pantai Nglangkap. Setelah memasuki gapura utama menuju pantai Ngedan, kami bertanya pertama kali kepada seorang ibu dan ia mengarahkan untuk belok ke kanan di pertigaan pertama setelah gapura tadi. Setelah memasuki perkampungan, kami kembali bertanya untuk kedua kalinya dan kali ini kepada seorang bapak pekerja bangunan. Oke, petunjuk di dapat dan petualangan dimulai saat jalan beton berubah menjadi jalan berbatu dan mulai menyempit.

Beberapa kali kami melewati jalan kecil di bibir jurang kecil dan setelah beberapa kilometer menikmati panorama perbukitan, kami bertanya untuk ketiga kalinya kepada seorang ibu petani di sebuah ladang. Dan beruntungnya, kami berhenti dan bertanya tepat di samping jalan setapak menuju Nglangkap. Menariknya, ibu itu malah balik bertanya kepada kami,

“Ajeng nopo to mas kok blusukan ten Nglangkap?” [Mau ngapain sih mas kok blusukan ke Nglangkap?]

“Lha niku sing dipadosi Bu, sing ngangge blusukan, hehehe.” [Lha itu yang dicari Bu, yang pakai blusukan]

Lihat pasak/ patok kuning di kanan. Di samping pasak itu ada jalan setapak menuju Nglangkap

Si Sinchan pun kami tinggal di dekat gubug petani di situ. Perjalanan dilanjutkan menembus semak-semak menuruni bukit yang lumayan panjang treknya menuju ke Nglangkap. Di sekitar 300 meter pertama, jalan setapak memang dihiasi semak, namun setelah itu pemandangan berganti ladang dan bukit karst.

Sekitar 20 menit berjalan, kami sudah melihat panorama lautan dan juga suara ombak. Lagi-lagi kami bertanya untuk keempat kalinya, dan kali ini hanya basa-basi sambil say hi kepada petani di ladang. Dan ibu petani pun juga berkelakar mengapa jauh-jauh datang cuma blusukan cari Nglangkap. Namanya juga mbolang bu. Hehehe.

Dan… tak jauh dari tempat kami bertanya tadi, kami melewati rimbunnya pohon pandan laut yang menjadi gapura masuk ke pantai Nglangkap.

Pasir putih menyambut kaki ini, angin sepoi-sepoi dan deru ombak seperti say hi kepada kami. Seorang petani rumput laut tampak menjemur panenannya di atas pasir. Di tepi barat tampak sinar matahari yang seperti semakin dekat ke ufuk barat. Hamparan pasir yang lumayan luas dan lantai karang berpadu apik membuat bingkai lukisan alam maha indah. Sayang apa yang kami lihat tidak bisa direkam sama indahnya dengan kamera.

 

Sambil menunggu sunset, kami juga berjalan-jalan di atas lantai karang sambil melihat aktivitas petik rumput laut. Foto-foto di pantai pun bebas di sini tanpa gangguan atau latar belakang pejalan lain yang mantai. Bandingkan jika kalian foto-foto di Baron pada hari Minggu atau di Kukup dan Indrayanti. Bukan pasir putih di latar belakangmu, tapi warna-warni baju pejalan 🙂

Pantai Nglangkap

Mendengarkan ombak di sore hari sambil duduk-duduk di atas pasir putih sambil melihat aktivitas petani rumput laut adalah benar-benar mantai bagi Dolanmaning. Inilah piknik versi Dolanmaning.

 

Bagi kalian pecinta alam, mungkin pantai ini bisa dijadikan lokasi kemah, tapi lokasi harus diperhatikan karena pasang air laut bisa memenuhi area pantai.

Akhirnya, alam pun memberikan sunset kepada kami di Nglangkap. Hari itu memang sangat cerah, dan kami sungguh beruntung bisa menikmati sunset di pantai ini. Letaknya yang sedikit serong ke barat dan tak terlalu tertutup bukit menjadikan pamandangan di horizon barat lumayan jelas. Mentari terbenam pun tampak syahdu terlihat dari Nglangkap.

Tips

Karena lokasinya  yang tersembunyi di balik ladang dan bukit,  kalian harus menempuh jalan berbatu dan sempit. Siapkanlah kendaraanmu untuk melewati medan tersebut. Di beberapa spot jalan sangat sempit dan terlalu riskan untuk dilewati mobil. Jadi moda sepeda motor menjadi yang paling pas untuk ke sini.

Pasir putih dan ‘laguna’ kecil

Jangan lupa bawa bekal minum dan makanan secukupnya karena energimu akan terkuras saat pulang, maklum saja jalan berbalik menanjak saat kalian meninggalkan pantai.

Pastinya tak ada warung atau toilet di sini, jadi silahkan dikondisikan sebelum mantai di Nglangkap.

Lokasi

Seperti yang dibahas di awal tulisan, pantai Nglangkap berada di desa Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul. Dari Yogyakarta kalian bisa lewat Imogiri, Panggang lalu Saptosari. Di jalan lintas selatan kawasan Saptosari sudah ada plang petunjuk menuju pantai Ngedan, kalian bisa mengikuti petunjuk ini. Setelah masuk gapura pantai Ngedan (dari jalan aspal menuju jalan beton ke Ngedan), silahkan belok kanan pada pertigaan pertama. Setelah itu GPS harus difungsikan, alias Gunakan Penduduk Setempat 🙂

Menunggu sunset

Tarif masuk

Ini yang kami suka. Sampai kami ke sana [22 Oktober 2017], belum ada pungutan retribusi ke pantai Nglangkap. Meskipun bertetangga dengan pantai Ngedan dan pantai Butuh, pantai Nglangkap memiliki akses berbeda dan terpencil hingga sepertinya belum terpikirkan oleh desa setempat untuk membuat retribusi seperti memasuki Ngedan dan Butuh.

 

Content Protection by DMCA.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: