Candi Plaosan: Mahakarya Cinta Rakai Pikatan dan Pramodyawardani

Candi Plaosan: Mahakarya Cinta Rakai Pikatan dan Pramodyawardani

Apalah artinya perbedaan jika cinta hendak mempersatukannya?

Dolanmaning tidak akan berpuisi di sini, hehehe, namun pertanyaan diatas terinsipirasi dari sebuah kutipan di novel berbahasa indah dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindunatha. Kutipan aslinya adalah sebuah pertanyaan dari karakter bernama Cucak Ruwun, seekor kera pengikut Hanoman yang sedang mengagumi perjuangan Sinta dan Rama untuk membali bersatu, “Apa artinya kedua daratan yang jauh terpisah, bila cinta hendak mempersatukannya, Kawanku?”

Lalu apa hubungannya kutipan tersebut dengan candi Plaosan? Bolehlah Dolanmaning meminjam kutipan novel tersebut untuk menggambarkan kisah cinta yang menelurkan sebuah candi nan indah. Adalah Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Hindu dari Abad ke-9M dan istrinya Pramodyawardani putri raja Samaratungga dari kerajaan Wangsa Syailendra yang membangun candi Plaosan sebagai peringatan atas cinta mereka.

Menurut catatan prasasti Sri Hahulunan (842M) disebutkan bahwa Plaosan Lor (utara) dibangun oleh Sri Hahulunan dengan restu dari suaminya. Menurut penelitian, Sri Hulungan diperkirakan adalah Pramodyawardani.

Reruntuhan candi Plaosan
Reruntuhan candi Plaosan

Bagunan candi Plaosan terdiri dari dua candi utama yang berukuran sama, 15m x 10mx 15m (PxLxT), hingga keduanya sering disebut candi kembar. Gaya arsitektur candi Plaosan merupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Budha seperti latar belakang Rakai Pikatan dan Pramodyawardani. Corak arsitektur candi Buddha yang kotak dan lebar terlihat pada bagian bawah candi (lantai) dan corak Hindu terlihat dari model atap dan ketinggian candi yang menjulang seperti Prambanan.

Candi Plosan dilihat dari sisi utara
Candi Plosan dilihat dari sisi utara

Relief di candi kembar selanjutnya menjadi pembeda antara candi di sebelah utara dan selatan. Relief candi di sebelah utara menampilkan gambar perempuan sedangkan candi di selatan menampilkan gambar laki-laki.

Puncak candi Plaosan
Puncak candi Plaosan

Perpaduan Hindu dan Buddha juga terlihat dari wujud perwara (candi kecil pendamping) yang sejatinya mengelilingi Plaosan. Candi Plaosan sebenarnya memiliki 174 perwara yang terdiri dari candi ukuran kecil dan stupa besar. Ya, stupa. Sesuatu yang dapat dijumpai di candi Buddha dan sekarang berada di daerah candi Hindu (Prambanan dan sekitaranya).  Perpaduan arsitektur ini berarti lebih dalam sebagai meleburnya perbedaan karena cinta yang suci. Jadi apa artinya perbedaan jika cinta hendak mempersatukannya?

Reruntuhan perwara
Reruntuhan perwara

Sayang sekali perwara-perwara itu sebagian besar sudah menjadi reruntuhan namun posisinya masih berada ditempatnya. Cerita indah Rakai Pikatan dan Pramodyawardani ini pun bagai tidak mungkin terulang di jaman Nusantara modern karena Mahkamah Konstitusi tidak memperbolehkan pernikahan beda agama.

Merapi terlihat dari Plaosan
Merapi terlihat dari Plaosan

Kembali ke candi, bagian dalam candi kembar masing-masing memiliki tiga ruangan utama. Namun menurut penelitian, sebenarnya ada 6 ruangan pada awalnya. Sebuah ruangan utama di depan pintu masuk, dan sebuah ruangan kecil di kiri dan kanan ruangan utama. Dahulu ruangan kecil ini disinyalir memiliki dua lantai yang terbuat dari kayu. Hal ini terlihat dari susunan dinding yang memiliki dudukan kusus untuk meletakkan papan kayu.

Arca di dalam candi
Arca di dalam candi

Di sebelah utara candi terlihat puncak Merapi yang sore itu tampak anggung menyembul dari balik pepohonan. Deratan aneka patung penggambaran Sang Buddha tampak berada di sebuah pelataran batu bernama Mandapa. Mandapa tampak seperti bekas joglo karena di lantainya terdapat pondasi kayu layaknya rumah joglo. Di pinggir selasar terdapat deretan patung yang membentuk U-shape menghadap ke utara, barat dan selatan. Sebagian besar patung di Mandapa telah rusak dan banyak pula yang hilang kepalanya.

Mentari sore tampak hangat menerangi wajah-wajah patung Buddha di Mandapa ini. Dari sini, candi kembar tampak keemasan bermandikan cahaya sore. Memang matahari terbenam menjadi atraksi yang cukup menarik di sini. Bayangan siluet atap candi dan gerbang candi menjadi sebuah potret yang indah. Saya merasa beruntung karena sore itu sungguh cerah dan saya dapat memandangi detik demi detik kembalinya sang surya ke peraduannya.

Candi Plaosan, kisahnya sungguh romantis dan penuh makna. Tak ada roman atau puisi yang sanggup menggambarkan keindahan cinta Rakai Pikatan dan Pramodyawardani hingga kita masih dapat menikmati kemegahan mahakarya cinta mereka sampai sekarang. Jadi kenapa orang Indonesia melancong ke Agra, India, untuk melihat Taj Mahal jika di Indonesia ada kisah romantis di Plaosan, Klaten, Jawa Tengah.

sunset di plaosan

Lokasi:

Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jateng, atau tepatnya berada di sebelah timur laut candi Prambanan. Kalian dapat melalui jalan kecil di timur Prambanan dan ikutilah plang ke Plaosan di pertigaan pertama dan beloklah ke kanan menusuri jalan persawahan hingga candi terlihat di ujung jalan.

Tidak ada tiket masuk ke candi, namun pengunjung wajib mengisi buku tamu dan membayar Rp.3.000 per orang.

Menikmati sunset adalah hal paling menarik di sini. Saat cerah, kalian dapat menikmati tenggelamnya mentari yang menciptakan siluet atap-atap perwara yang indah.

Selamat dolanmaning!

*referensi dari berbagai sumber.

Content Protection by DMCA.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: